Detail Interest Area

Memahami Hubungan Antara Maskulinitas CEO, Komite Audit, dan Ukuran Dewan Terhadap Pengungkapan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR) di Konteks Bisnis Indonesia

Sumber : Nasih, M., Anridho, N., Rahayu, N. K., & Nowland, J. (2023)


Pengungkapan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR) telah menjadi topik penting dalam dunia bisnis modern. Perusahaan semakin menyadari pentingnya berperan aktif dalam masyarakat dan lingkungan sekitar mereka. Sebagai bagian dari tuntutan ini, sejumlah faktor, termasuk kepemimpinan tingkat atas, seperti CEO, serta struktur perusahaan seperti Komite Audit dan Ukuran Dewan, semakin menjadi sorotan dalam menentukan sejauh mana perusahaan terlibat dalam CSR.

Dalam beberapa tahun terakhir, banyak penelitian yang dilakukan untuk memahami faktor-faktor apa yang memengaruhi tingkat pengungkapan CSR oleh perusahaan. Salah satu faktor yang semakin menarik perhatian adalah maskulinitas CEO. Apakah ada hubungan antara karakteristik maskulin seorang CEO dengan sejauh mana perusahaan mereka terlibat dalam CSR?

Penelitian sebelumnya telah menunjukkan hasil yang bervariasi dalam hal ini. Beberapa studi menemukan bahwa CEO yang lebih maskulin cenderung kurang aktif dalam CSR, sementara yang lain menunjukkan sebaliknya. Artikel ini akan menjelaskan hasil penelitian terbaru yang mengeksplorasi hubungan antara maskulinitas CEO, Komite Audit, dan Ukuran Dewan terhadap pengungkapan CSR dalam konteks bisnis Indonesia.

CEO Maskulin dan Pengungkapan CSR

Penelitian ini mengevaluasi dampak maskulinitas CEO terhadap pengungkapan CSR perusahaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif antara karakteristik maskulin seorang CEO dengan tingkat pengungkapan CSR. Dengan kata lain, semakin maskulin seorang CEO, semakin rendah kemungkinan perusahaan untuk terlibat dalam CSR.

Penemuan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa karakteristik maskulin cenderung berkaitan dengan sikap yang lebih otoriter dan kurang peduli terhadap tanggung jawab sosial. Namun, penting untuk diingat bahwa ini hanya salah satu aspek dari gambaran keseluruhan, dan masih ada banyak faktor lain yang dapat memengaruhi keputusan perusahaan dalam hal CSR.

Peran Komite Audit

Selain karakteristik CEO, penelitian ini juga mempertimbangkan peran Komite Audit dalam pengungkapan CSR. Komite Audit adalah lembaga internal dalam perusahaan yang bertanggung jawab untuk memastikan bahwa praktik akuntansi dan pelaporan perusahaan berjalan dengan baik.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya Komite Audit yang kuat dan efektif berdampak positif pada pengungkapan CSR. Ini mungkin karena Komite Audit memainkan peran penting dalam mengawasi dan mengontrol praktik perusahaan secara keseluruhan. Mereka dapat memberikan dorongan dan dukungan yang diperlukan untuk memastikan bahwa CSR diintegrasikan dengan baik dalam strategi perusahaan.

Ukuran Dewan

Ukuran Dewan adalah faktor lain yang perlu dipertimbangkan. Dewan direksi perusahaan adalah lembaga yang memiliki pengaruh signifikan dalam mengambil keputusan strategis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran Dewan juga memiliki dampak pada pengungkapan CSR.

Namun, temuan dalam hal ini lebih kompleks. Penelitian menunjukkan bahwa perusahaan dengan Dewan yang lebih besar memiliki tingkat pengungkapan CSR yang lebih rendah. Ini mungkin karena dalam Dewan yang besar, proses pengambilan keputusan menjadi lebih lambat dan cenderung kurang efisien. Selain itu, dalam Dewan yang besar, peran individu mungkin menjadi lebih terdispersi, sehingga mengurangi fokus pada CSR.

Implikasi dan Kesimpulan

Penelitian ini memiliki beberapa implikasi penting untuk praktisi bisnis dan pengambil kebijakan. Pertama, kesadaran akan peran penting CSR dalam bisnis semakin meningkat. CEO dan dewan direksi perlu memahami bahwa karakteristik individu, seperti maskulinitas CEO, dapat memengaruhi komitmen perusahaan terhadap CSR.

Kedua, penting untuk memperhatikan struktur organisasi internal, termasuk peran Komite Audit dan ukuran Dewan. Komite Audit yang kuat dapat menjadi aset berharga dalam mendorong praktik CSR yang lebih baik. Namun, perusahaan juga perlu berhati-hati dalam mempertimbangkan ukuran Dewan, karena Dewan yang terlalu besar dapat menghambat efisiensi dalam pengambilan keputusan.

Dalam konteks bisnis Indonesia, penelitian ini memberikan wawasan yang berharga tentang bagaimana faktor-faktor ini saling terkait dalam memengaruhi pengungkapan CSR. Namun, perlu diingat bahwa faktor-faktor lain juga dapat memengaruhi CSR, dan penelitian lebih lanjut mungkin diperlukan untuk memahami gambaran keseluruhan dengan lebih baik.

Sebagai kesimpulan, pengungkapan CSR adalah aspek penting dalam bisnis modern, dan pemahaman yang lebih baik tentang faktor-faktor yang memengaruhi keputusan perusahaan dalam hal ini dapat membantu perusahaan lebih efektif dalam berkontribusi pada masyarakat dan lingkungan sekitarnya.

Sumber: 

Nasih, M., Anridho, N., Rahayu, N. K., & Nowland, J. (2023). CEO masculinity and CSRdisclosure: evidence from Indonesia. Asian Journal of Accounting Research, 8(2), 157-169.

Penulis: Zumrotul Minrovia & Zakharia Vito